Dulu, saya “merasa” saya adalah orang yang selalu beruntung. Ada aja berbagai keberuntungan dalam hidup yang rasanya nggak masuk akal manusia.
Dapat kerja dari Twitter, banyak ketemu KPop idol dan nonton semua konser KPop gratis di Jakarta dan Singapura selama 2011-2013 itu salah satu yang paling sering saya ceritakan tapi sebenarnya dalam keseharian, sangat banyak hal di mana saya bertemu dengan berbagai keberuntungan.
Photo by SULTAN 🇸🇦 on Unsplash
Sesimpel dulu pernah ingin belikan anak satu mainan yang rasanya terlalu mahal, lalu tiba-tiba atasan suami di kantor bisa-bisanya lho ngasih kado mainan itu. Persis sama!
Pernah juga ngebatin pengen deh buah-buahan mahal karena di situasi saat itu belanja mingguan aja budgetnya sangat-sangat ketat, buah hanya berupa melon dan apel yang ada di pasar, terus aja gantian apel dan melon 😩
Eh, ada lho tawaran kerja sama dengan grocery platform yang ngasih grocery shopping gratis 6 bulan untuk satu postingan blog! Jadi bisa beli buah mahal terus tiap bulan.
Dan kejadian kaya gini tuh nggak cuma satu dua kali. Ingin sesuatu lalu datang sendiri, ingin sesuatu entah gimana caranya lalu tiba-tiba jalannya mulus dan mudah. Makanya dulu pas nemu buku ini, wihhh seneng banget karena rasanya semua keberuntungan dalam hidup saya tervalidasi.
Di saat yang sama, beberapa tahun belakangan, saya juga merasa saya menjadi orang yang sangat mudah bersyukur. Diawali saat pascapandemi, saya lumayan sering terbang untuk urusan kerjaan.
Rasanya tuh di bandara lagi, di bandara lagi.
Dari keasingan manusia saat terbang, selalu ada rasa lega saat kembali menjejak bumi. Setiap kali roda pesawat menyentuh landasan, ada perasaan syukur yang amat sangat. Alhamdulillah selamat, minimal kembali ada di darat ahahahaha.
Dan itu berlanjut jadi syukur pada hal-hal kecil lain. Alhamdulillah setelah landing bisa dapat taksi tanpa antri. Alhamdulillah sampai rumah. Alhamdulillah bisa makan kembali di bareng suami dan anak.
Bahkan perkara minum aja saya selalu, alhamdulillah ya punya water purifier di rumah jadi minum rasanya enak tanpa perlu mikir beli galon. Jadi tiap kali minum aja rasanya bersyukurrrr banget.
Pokoknya “alhamdulillah” adalah kata yang paling sering saya ucapkan saking saya merasa saya adalah orang beruntung.
Jadi iya, saya adalah orang itu. Orang yang selalu merasa beruntung dan merasa mudah bersyukur. Alhamdulillah.
Pergi Haji Hanya dengan Antri 4 tahun
Agustus 2025, kami dikabari dapat kuota cadangan untuk pergi haji. Daftar di 2022, perkiraan berangkat kami di 2028. Namun, saat dikabari itu, nomor porsinya sudah maju jadi 2027. Dan ternyata bisa beneran berangkat di 2026! Masyaallah.
Tapi prosesnya lumayan bikin nggak mau berekspektasi karena terus terus terussss dibilang sebagai cadangan. Padahal semua orang yang akan berangkat haji tahun ini sudah selesai medical check-up, tes ini itu, vaksin, tapi kami belum ada kepastian.
Kabar baik kepastian berangkat akhirnya datang di awal Januari 2026. Di daftar presensi, nama kami ada di baris penutup. Benar-benar kuota cadangan akhir.
Langsung merasa bersyukur dan lagi-lagi merasa jadi orang paling beruntung sedunia.
Karena rentetan “bisa berangkat haji” itu tidak semudah daftar lalu menunggu. Apalagi pelunasannya pakai dollar. Kami saja alhamdulillah bisa berangkat kan sebetulnya karena banyak orang yang seharusnya berangkat di tahun itu, tidak sanggup melunasi.
Nah, kebetulan sejak beberapa tahun belakangan, saat dollar menyentuh hampir Rp15 ribu, saya mulai agresif menabung dollar karena khawatir harganya naik terus dan biaya pelunasan haji kalau dirupiahkan jadi melonjak banyak.
Benar saja, saat kami berangkat, harga dollarnya sudah sedikit menuju Rp18 ribu. Selisih kursnya jika berdua, bisa lebih dari Rp75 juta!
Ada lagi “kebetulan” lainnya yang receh sih tapi mayan bikin terharu 🥹 untuk kami yang sedang suka lari. Yaituuu, kami kan tiap tahun selalu pergi liburan satu bulan di Juni-Juli ya.
Tapi di 2025, kami liburannya hanya 2 minggu lebih karena terlanjur daftar race lari Jakim (Jakarta International Marathon) yang waktunya pas banget dengan waktu libur sekolah. Batal liburan lama-lama deh. Senang sih Jakim, tapi waktu liburan panjang itu cuma bisa saat kenaikan kelas kan. Jadi kaya “hhh hilang waktu liburan hanya demi race” 🥲
2026, adik dan ibu saya daftar Jakim lagi tapi kami tegasss “ah ga mau Jakim ah, nanti ga bisa liburan sebulan kaya tahun lalu”.
Ehh, ternyata 2026 beneran kami bisa liburan sebulan di Mekkah dan Madinah! 😭 Dan ternyata Jakim itu seminggu setelah kami pulang haji, kapan latihannya kan kalau daftar.
Kesadaran yang Baru Muncul
Setelah sampai sana dan dapat banyakkk sekali kemudahan lain, saya baru menyadari satu hal. Atau lebih tepatnya, baru disadarkan Allah satu hal.
Selama ini tuh saya bukan beruntung tapi Allah bantu, Allah mudahkan, Allah yang kasih rezeki, Allah yang Maha Baik.
Surprisingly, titik baliknya bukan saat puncak haji tapi justru dari momen-momen “kecil” seperti tawaf, lanjut tahajud sampai subuh. Setiap hari keluar hotel jam 1 pagi, dingin, sepi, hening, dengan Ka’bah yang berbalut ihram putih. Sungguh Allah baik sekali mengizinkan saya punya pengalaman itu 🥹
Sesederhana dapat teman kanan-kiri di tenda Mina yang nggak bau badan, nggak ngorok sehingga tidur tidak terlalu terganggu (karena sempit saja kan sudah tidak nyaman), punya rombongan yang seru pula diajak ngobrol. Itu saya bersyukurnyaaaa 😭😭😭
Perjalanan 23 hari itu betul-betul momen yang menyadarkan bahwa semua yang terjadi selama hidup saya, sekecil apa pun hal yang saya anggap “kebetulan” dan “keberuntungan” semuanya adalah bagian dari rencana baik Allah.
Bayangin selama ini saya SUDAH selalu bersyukur dan SUDAH bilang alhamdulillah berulang kali dalam sehari, tapi di sana saya baru benar-benar dikasih paham, sadar penuh kalau NGGAK ADA yang bergerak di dunia ini tanpa izin Allah.
Allah ternyata selalu berperan sebagai subjek untuk situasi apa pun.
Nggak ada lahh saya tiba-tiba pinter pengen nabung dollar, Allah lah yang kasih saya taufik untuk nabung dollar.
Nggak ada “kebetulan nggak daftar Jakim”, Allah lah yang kasih petunjuk untuk nggak usah daftar daripada tiketnya mubadzir karena pasti capek banget baru pulang haji harus race lari.
Sejak dulu pun nggak menyadari hal ini aja TENTU karena Allah belum sadarkan.
Allah baru sadarkan, bukakan hati, saat haji.
WALACCCHH APA SIH DITULIS GINI KOK KAYA RECEH YA AHAHAHAHAHAHAHA. Kaya “yaiyalah” atau “iya udah tau masa kesadaran gitu aja harus haji dulu sih” 🤣
Ok, fair enough, mungkin kerasa receh karena contohnya adalah rasa syukur.
Yang ini ni yang menurut saya paling gong, yang paling luar biasa, yang paling menggemparkan dunia (dunia saya doang sih HAHA) setelah saya pulang haji:
Saya jadi (semakin) fearless. Saya jadi semakin sedikit sekali takut.
“Emang takut apa sih, kakkk?”
LHO EMAK-EMAK BEGINI TAKUTNYA BANYAK BANGET WEY 🤣
Takut anak tumbuh kembangnya kurang ok. Takut nggak maksimal jadi ibu. Takut anak ada di lingkungan buruk karena aku kurang jaga.
Takut anak nggak bisa ngikutin pelajaran di sekolah aja bisa bikin kita cemas, kan??? KANNN??? Takut anak nggak keterima di SMP yang kita mau.
Takut ngelepas anak pergi-pergi sendiri. Takut suami meninggal nanti anak nggak punya ayah, takut ini takut itu ih banyak banget takutnya kalau berkaitan sama anak.
Apalagi waktu anak masih kecil ya. Saking banyak takut, saya lihatin anak belajar sepeda aja nggak mau tuh. Biar aja sama suami deh. Saya lihatnya ngilu, takut jatuh, kasihan nanti sakit, nanti nangis (padahal kenapa kalau nangis HAHA). Jadi saya nggak tahu belajarnya gimana, tau-tau bisa 👸🏻
Iya tidak selalu takut, tidak selalu khawatir. Tapi ada aja kan momen-momen khawatir itu? Buktinya ni anak seumur hidupnya ke mana-mana selalu dianter 😂
Btw kalau kamu lebih banyak takutnya dan khawatirnya, coba ke psikolog atau psikiater deh, khawatirnya ada gangguan cemas.
Sekarang, alhamdulillah, saya hampir tidak pernah cemas. Cerita terbaru adalah: Saya bisa melepas anak pergi les sendiri naik taksi. Waspada tentu dengan hanya mau naik Blue Bird dan share location juga di WhatsApp, tapi melepas anak pergi sendiri di Jakarta adalah MILESTONE yang layak dipamerkan sebagai prestasi 😂😍
Saat dia pesan taksi, naik sendiri, saya nggak overthinking lagi: Gimana kalau gini, gimana kalau gitu. Dengan selalu ingat Allah, ternyata saya jauh lebih tenang dan jadi nggak terlalu banyak khawatir berlebihan lagi tentang anak.
Dan ternyata ini tuh Allah ngajarinnya pelan-pelan. Tentang rasa takut kehilangan barang diajarinnya di 2017, saat rumah kemalingan dan barang elektronik hilang semua dari iPad, kamera, harddisk external, habis bis.
Bengongnya lama tapi dari situ saya nggak takut lagi kehilangan barang atau uang. Hilang ya udah, nanti Allah ganti. Kuota barangnya udah abis buat jadi punya saya, it’s ok nanti juga ada barang lain lagi yang jadi rezeki saya.
Saya juga ngerasa rezeki yang sudah jelas jadi milik saya adalah segala yang memang sudah saya belikan atau saya pakai. Aset-aset yang saya simpan, bisa kapan aja Allah ambil kalau memang sudah waktunya, kalau memang jalan takdirnya bukan lagi milik saya.
Jadi soal harta tuh alhamdulillah saya udah lama bisa lebih tenang. Tapi ya gitulah, rasa takut yang ada hubungannya sama anak baru dhuar meletek disadarkan saat pulang haji ini.
It’s such a comforting feeling that, as a mom, I’ve noticed my worries about my son have really lightened thanks to Allah's guidance 🥹
Saya selalu terngiang kata-kata ustaz di tempat saya (berusaha) rutin kajian mingguan 3 tahun belakangan:
Manusia nggak bahagia karena berusaha tahu segala dan merasa bisa tahu segala. Nggak bahagia karena memaksa membuka tabir yang emang nggak semua perlu kita tahu, karena kita cuma manusia.
Saat kita mengakui kita tidak perlu tahu segala, menerima bahwa ada hal-hal yang memang kita tidak tahu, belum tahu, atau selamanya memang tidak akan pernah tahu, hidup akan lebih bahagia.
Ingin selalu tahu suami ada di mana, sama siapa, kurang percaya. Ingin selalu tahu apakah masa depan anak akan secemerlang yang kita impikan. Merasa paling tahu, saya yang paling tahu anak saya, saya yang paling bisa menjaga anak saya.
Dahlah, kamu nggak akan bahagia 🤗
Dengernya triggered nggak tuh, antara “bener sih” sama “YA MASA NGGAK BOLEHHH KAYA GITUUU” 🤣
Bukan nggak boleh. Tapi memaksa ingin tahu segalanya itu nggak mungkin, kamu bukan Tuhan.
Merasa ingin menjaga segalanya, seolah kalau kamu jaga nggak akan terjadi apa-apa juga nggak mungkin. Again, kamu bukan Tuhan.
Merasa harus mengontrol semua, mengkhawatirkan segalanya sampai overthinking, cemas, gampang marah sama suami kalau ada yang nggak sesuai ekspektasi, itu juga namanya bukan ikhtiar. Ikhtiar mah do your best lalu sudah serahkan pada yang Maha Kuasa. Dia yang kontrol, bukan kamu.
You’re missing out on real happiness because you try to control everything, as if you were God. Bad news: YOU’RE NOT.
Meresapi segala keberuntungan, segala yang sudah saya terima selama hidup, sampai peak-nya adalah bisa haji di usia 37 tahun, saya makin yakin saya tidak perlu dikuasai oleh rasa takut atas apa pun. APA PUN.
Takut secukupnya. Takut untuk jadi waspada dan mencari solusi. Bukan beralasan takut padahal berusaha ingin tahu segala. Berusaha ingin mengontrol dan menguasai semua.
Saya jadi semakin sedikit takut karena saya tahu ada Dia yang Maha Kuat, Maha Baik, Maha Melindungi yang menjaga saya, menjaga anak, menjaga seluruh keluarga. Melindungi apa-apa yang akan tetap milik saya dan berbaik hati mengambil apa-apa yang sudah tidak layak lagi untuk saya.
Yang menjawab doa bukan dengan selalu memberi apa yang saya inginkan tapi selalu hadir memberi apa yang saya butuhkan. Yang selalu ada sepanik apa pun saya, yang selalu menjaga saat hati tenang maupun tidak tenang.
Yang selalu memudahkan hidup saya, yang nggak pernah bikin saya susah, saya aja kurang latihan untuk ngerjain ujiannya.
Apa pun, DIA SELALU ADA DAN SELALU MENJAGA.
Jadi ini jawabannya. Yang paling berubah dan bisa di-share pada banyak orang setelah pulang haji ternyata ini!
Bukan tentang seberapa tambah rajin ibadah karena ibadah urusan saya pribadi, saya nggak nyaman share tentang ibadah.
Bukan tentang pakaian (juga ini urusan saya pribadi), saya nggak nyaman juga bahas tentang berpakaian karena saya juga nggak peduli sih orang pergi haji lalu misal tetap nggak berhijab.
Dan jelas tentu, bukan tentang hal-hal yang bisa dengan mudah dilihat di social media (yang banyak orang kira saya share semua padahal hanya sebagian kecil saja).
Yang berubah adalah saya jadi dimudahkan Allah untuk selalu mengingat segala yang terjadi, termasuk jantung yang berdetak, napas yang lancar, berdiri yang ajeg, jalan yang ringan, segala-galanya hanya dan hanya karena atas izin-Nya.
Karena Allah izinkan dan mudahkan.
Saya juga jadi merasa doa yang sering saya share itu jadi lebih powerful. Dulu saya pernah share di YouTube kalau saya selalu memulai doa yang berupa permintaan (bukan pengampunan atau perlindungan) dengan 3 kata:
Lancarkan, mudahkan, tenangkan (dalam prosesnya).
Kamu bisa menyambung 3 kata itu dengan doa apa saja dan akan masuk-masuk aja dengan smooth. Kemarin saya ngobrol dengan Amel @deramelia dan dia bilang tambah dengan “berkahilah”.
Sudah lancar, mudah, kitanya tenang, dan berkah. Masyaallah.
Di sisi lain, saya juga mikir, “oh hidup saya udah tenang karena udah haji kali ya?”
Kaya ngerasa udah nggak ada “utang” apa-apa lagi selain memperbaiki ibadah sehari-hari. Karena haji ini kan yang paling sulit, paling mahalll. Pembelian terbesar saya seumur hidup!
Belum pernah saya keluar uang sebanyak itu karena mobil dan rumah pun tidak semahal itu! Lagian punya uang pun kalau masih sebagai rakyat mah nggak bisa langsung berangkat haji. Beda cerita kalau kamu pejabat. HEHEHE.
DAN GOOD NEWS-NYA TENTU: Kamu nggak perlu pergi haji dulu untuk bisa punya mindset seperti ini.
Satu kebiasaan kecil yang bisa dipraktikkan setiap hari adalah, menyadari momen bengong ☺️
Setiap pikiran mulai ngelantur ke sana-sini, syukuri apa yang sedang terlihat, terasa, atau yang sedang dilakukan.
Alhamdulillah ya, bisa sarapan enak. Alhamdulillah, tadi gym lancar banget dan nggak terlalu capek. Alhamdulillah, nggak macet jadi anter anak cepet banget.
Sekecil apa pun, selalu ingat kebaikan Allah, mengingat Allah adalah subjek segalanya, bukan hanya sekadar terucap “alhamdulillah”.
Ulangi setiap hari, kapan saja pikiran kamu penuh atau hati terasa berat, Allah pasti bantu. Saat semua ringan, mudah, dan lancar, juga karena bantuan Allah. Saat pikiran mulai melayang ke sana-sini, ingat ada Allah.
Simple tapi sangat membantu untuk mengingatkan kamu siapa yang selalu menjaga dan memudahkan segalanya.
May Allah grant you the grace to realize: there is always The Greatest Power, The Almighty, the One who never leaves you, the One who holds you when everything else falls apart.
Disclaimer: Dari dulu saya selalu menghindar untuk ngomongin apapun yang berkaitan dengan agama karena merasa orang Indonesia kebanyakan terlalu hitam putih. Diskusinya tuh sempit, cuma antara siapa yang benar atau siapa yang salah.
Banyak orang yang saat melihat orang lain MENURUT DIA salah maka dia merasa harus “meluruskan”. Padahal ilmu itu luasss dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta adalah hubungan personal yang tidak perlu diperdebatkan.
Maka dengan demikian, saya tidak menerima perdebatan atau nasihat apapun ya. Saya minta nasihat dari orang yang saya percaya dan orang random di internet seperti kamu kamuuuu tentu saya tidak percaya, kenal aja engga AHAHAHAHAHA
Tapi saya senang sekali kalau kamu yang baca mungkin ada juga yang mengalami hal serupa atau punya refleksi sendiri setelah mengalami momen spiritual penting seperti haji atau apapun itu.
Kalau ada yang mau berbagi cerita serupa, atau sekadar ingin share perasaan, ayo tulis di kolom komentar. Dengan senang hati saya akan baca, selama kita sama-sama menjaga ruang ini tetap nyaman dan saling menghormati pengalaman masing-masing 🤗
Hope you find your peace, too!
-ast-



Hai kak, mau berbagi ceritaku. Dulu aku daftar haji plus 1 bulan setelah kakak share di IG daftar haji plus. Makasih ya kak.
Awal april 2026 aku diinfo kalau berangkat maju di 2027 (semula 2028). Itu bener2 bikin aku langsung degggg gitu karena aku tuh selalu berdoa Ya Allah kalau memang sudah waktunya hamba berhaji minta dikasih waktu yang cukup untuk persiapan semua2nya. Terkait ninggalin anak terutama (anakku 2 btw, yg pertama kelas 1 SD which is aku harus nyiapin dia ulangan kenaikan kelas krn kemungkinan 2027 aku sampai indo dia langsung jadwal ujian wkwk). Termasuk aku jadi ikut TPT (trauma processing therapy) krn ternyata aku ada anxiety berlebih anak-ortu berpisah di masa kecil. Alhamdulillah udah better banget sekarang, bisa bikin to do list persiapan nitipin anak2 enggak cemasnya aja yg ada.
Pas dikasih tau berangkatku maju itu aku cuman berdoa aja semoga kakak berangkat duluan sebelum aku krn aku yakin bakalan dapet insight banyak dr kakak soal perhajian, dr printilan2 macam kipas angin (wkwkk) sampe pengalaman2 lain. Surprisingly pas kakak share di subs ig (kurleb 2 minggu setelah aku diinfo berangkat 2027) aku udh mulai prepare mau hajian aku kayak, Ya Allah kalau bukan krn kemurahan-Mu dan kemudahan dari Mu ga mungkin kayak giniii (cryyyy). Termasuk waktu kakak sharing soal ninggalin xylo waktu hajian berasa dapet temen ((dapet temen banget gak tuuhhh))
Juni-Juli aku sm suami memutuskan untuk manasik mandiri (bukan dr biro) utk memantapkan ilmu dan pemahaman kita. Niatnya utk memantaskan diri sebagai hamba udah ikhtiar semaksimalnya supaya bisa beneran berangkat. Akhir pekan kemarin tiba2 diinfo dr biro persyaratan kurang 1 alhamdulillah udah submit semua. Sekarang yg aku rasain kayak lebih tenang gitu, semua persiapan udah kita bikin timeline nya, yg udah dan belum apa aja jadi bikin lebih tenang gitu.
Termasuk baca tulisan kakak ini juga bikin aku lebih tenang gitu. Makasih ya kak sudah menulis ini.
Tulisannya hangat sekalii. Aku lah salah satu yg terinspirasi teh ica buat mensyukuri hal kecil (ngikutin reelsnya cara bersyukurnya di ig). Thank youu tehh✨ 🤗